Lagu Happy Birthday Terindah!
Dapatkan Gratis Disini!

Sepuluh Pertanyaan Mendasar

Mari kita cari jawabnya disini.
Silakan beri Komentarmu!

Terimakasih Boss!

Anda Siap?
Go!

--------------------------------------------------

'Pribadi Hebat' akan memuat dan mengulas Ide anda!

---------------------------------------------------------------

Banyak Dibaca

Showing posts with label Sup Ayam Hebat. Show all posts
Showing posts with label Sup Ayam Hebat. Show all posts
0

Lagu Happy Birthday Terindah!

Pribadi Hebat - Sup Ayam Hebat

Artikel ini diambil dari Hillon's blog dan saya pikir ada baiknya dimuat disini agar pesan yang ingin disampaikan bsa menyebar luas. Andapun bebas mengutipnya, karena yang bersangkutan dengan senang hati memang bermaksud demikian.

Sungguh sangat jitu pemikiran ini dan sesuai dengan semangat pribadi hebat, artikel ini kita katagorikan dalam Sup Ayam dan Vitamin Hebat. Silakan membacanya dan jangan lupa menyebarkannya, terutama mempraktekannya.


Masih ingat ribut-ribut soal lagu Rasa Sayange yang di klaim Malaysia itu? Kita kebakaran Jenggot tidak percaya diri dan setengah mati berteriak bahwa lagu itu milik kita. Kenapa harus teriak-teriak, padahal orang tak akan mempedulikannya. Dilain pihak kita ambil contoh barongsay yang kini dimainkan di seluruh dunia. Kalaupun ada (negeri lain selain China) yang mengklaim itu miliknya tak akan ada yang percaya dan mempedulikannya karena semua orang tahu barongsay berasal dari negeri China! Kenapa bisa begitu? Tentu saja karena barongsay paling banyak dan paling sering dimainkan di negeri naga itu. Tanpa klaim-klaiman pun orang pasti berasosiasi dimana ia sering dimainkan dan digunakan, disitulah pemiliknya. Bukankah jika anda selalu menggunakan sepeda hitam butut setiap saat meskipun ternyata pinjaman, orang yang tidak tahu akan mengira itu milik anda?







Jadi, kesimpulannya sederhana!
Kalau mau semua orang tahu lagu Rasa Sayange itu milik kita, maka sering-seringlah menyanyikannnya, dimanapun dan kapanpun!

Karena itu saya mengusulkan dan mengajak ayo kita jadikan lagu Rasa Sayange sebagai lagu ulang tahun! Tentu saja syairnya kita rubah sesuai pesan dan makna ulang tahun. Bayangkan, setiap hari tentu akan banyak yang menyanyikannya.

Dibandingkan dengan berbagai lagu happy birthday yang sudah lawas itu, lagu Rasa Sayange memiliki beberapa keunggulan:
  1. Iramanya bersemangat memberikan spirit dan energy positif bagi yang berulang tahun.
  2. Enak didengar bagi kebayakan telinga, cukup melodious.
  3. Sederhana sehingga mudah dinyanyikan oleh siapa saja, segala usia.
  4. Mudah diiringi dengan alat musik bahkan oleh pemula sekalipun karena chord-nya sederhana meski hanya bermodal "rumus 3 kunci" (C-G-F)
  5. Semua bisa mengiringinya meski dengan alat apa saja, termasuk tepuk tangan.
  6. Mudah menyanyikannya dengan suara 2, 3 bahkan 4.
  7. Baitnya bersifat Pantun sehingga merangsang orang untuk berkreasi mengarang ucapan selamat, doa dan harapan bagi yang berulang tahun dan akan di"Amin"i oleh yang lain dengan menyanyikan Reffrain-nya.
  8. Setiap orang bisa menyiapkan ucapan selamatnya berupa pantun dan menyanyikannya pada bagian bait.
  9. Muncul tradisi baru memberi hadiah doa dan pengharapan (berupa pantun), meski tak bisa memberi harta! Makin bermakna (tidak harus selalu indah, lucu juga bagus, salahpun oke!) isi pantunnya tentu makin bernilai hadiah itu.
  10. Jadikan tradisi ini mendunia, karena setiap bangsa akan menterjemahkan dan membuat pantunya sesuai bahsa masing-masing.
Bayangkanlah, kini setiap kali akan pergi ke acara ulang tahun anda tak perlu pusing jika belum mendapatkan hadiah istimewa bagi yang berulang tahun, siapkan saja doa yang indah dalam bentuk pantun karena doa anda itu akan dikumandangkan oleh seluruh tamu. Ini akan menjadi kekuatan berjamaah, berjemaat dan universal. Rahasia dari "The Law of Attraction" akan bekerja dan doa anda akan terwujud! (The Secret, by Rhonda Byrne).

Bayangkanlah, kini setiap akan menghadiri acara ulang tahun akan muncul percakapan seperti ini:
A: "Apakah hadiah untuk Bejo sudah kamu persiapkan?"
B:"Aduh, belum! bantuin dong?"
A:"Ok, mari kita bikin sama-sama. Apa ya harapan kita bagi si Bejo itu?"
B:"Aku berharap dia bisa lebih ramah, gitu!"
A:"Ok, kita bikin pantunya agar dia lebih ramah!"

Apapun hasil pantunnya, jelas ada kesungguhan yang lebih, dalam mendoakan dan pengharapan lebih baik bagi yang berulang tahun. Anda kan tidak datang hanya untuk menghabisi hidangan disana, bukan...????

Berikut usulan saya tentang lagu Selamat Ulang Tahun Sayange, untuk si Bejo temanku.

Intro Solo:
1 7 60 6 05 4 0 3 0 5 .... 10 30 20 2 .............. 1...... . 7.. 1.. 1..... 5!
Se lamat Ulang Tahun... Rasa Sayang.... (mas/mbak) Be jo oooo hey!

Reffrain: (not spt biasa)
Rasa sayang hey rasa sayang sayang hey, Selamat Ulang Tahun (mas/mbak) Bejo sayange
Rasa sayang hey rasa sayang sayang hey, Semoga Panjang Umur (mas/mbak) Bejo sayange

Bait/Pantun: (sesuai doa dan harapan saya bagi si Bejo, not seperti biasa)
Ada kancil menjadi raja
Ada musang berbulu domba
Dari kecil hingga dewasa
Jadi orang berhati mulia

Kembali Ke Reffrain

Bait/Pantun: (ganti orang lain, si B dengan harapannya terhadap Bejo)
Ada p'rahu di tepi pantai
Naikkan kaki agar tak basah
Kar'na kamu suka bersantai
baiknya jadi orang yang ramah

Kembali ke Reffrain, dst,dst!

Catatan:
1 (do tebal miring) = do tinggi
7 (si tebal) = si rendah.
.....(titik-titik) = nada panjang
! (tanda seru) = berhenti tiba-tiba.

Oke? Anda tentu dengan mudah bisa menyanyikannya!
Nah, daripada ribut soal klaim-mengklaim mari kita nyanyikan saja terus, kapanpun dan dimanapun!
Selamat Mencoba.

Salam S.O.B.A.T

0

Suami-Suami Takut Istri

Pribadi hebat - Sup Ayam Hebat


oleh: Aziz Fajar Ariwibowo

Tentu kita tidak asing lagi dengan tayangan di salah satu stasiun televisi swasta yang bertajuk seperti judul diatas. Apalagi kemudian tayangan tersebut (suami-suami takut isteri – SSI) diangkat ke dalam layar lebar dengan pemeran yang sama, tentunya akan membuat penonton menjadi semakin penasaran.

Tayangan ini sebenarnya patut mendapat acungan jempol karena masih mampu bertahan hingga kini dan diputar hampir setiap hari pada prime time, artinya SSI masih mampu memikat hati penonton televisi untuk tidak memindahkan channel televisinya. Harus diakui memang plot cerita SSI dibuat sederhana dan terjadi pada kehidupan sehari-hari, sehingga penonton tidak harus menyimak dengan serius sambil mengernyitkan dahinya. Pemilihan para pemain juga terlihat pas dengan tokoh yang diperankan, apalagi mereka termasuk dalam kategori pemain baru sehingga mampu menyajikan sesuatu yang segar di antara dominasi pemain sinetron yang itu-itu saja.

Pada awalnya saya juga suka menonton SSI, namun setelah beberapa waktu buat saya pribadi SSI menjadi sedikit membosankan karena metode yang digunakan untuk membuat penonton tertawa tidak berubah. Selalu para suami yang mata keranjang disuruh pulang oleh para isteri dengan caranya masing-masing. Ada yang dipukul, dicubit, dilempar sandal, serta disuruh jalan pocong dan bebek. Terasa SSI menjadi berkurang kreativitasnya, karena dari satu episode ke episode selanjutnya terlihat tidak ada perubahan yang signifikan. Rasanya sama seperti sedang melihat serial kartun anak-anak Tom and Jerry.

Selain itu, ada satu hal yang pada akhirnya membuat saya menjadi tidak menyukai SSI yaitu kekerasan isteri kepada suami yang ditayangkan pada waktu dimana kemungkinan dilihat oleh anak-anak sangat tinggi. Saya kuatir apabila kekerasan itu ditayangkan kepada anak-anak, selucu apapun dan meskipun dengan tujuan hanya untuk menghibur, akan mengendap dalam ketidaksadaran mereka dan suatu saat nanti akan keluar sebagai sebuah kebiasaan sekaligus menjadi sebuah kebenaran. Pembenaran bagi perilaku anak-anak kita nantinya bahwa sah bagi isteri untuk melakukan kekerasan terhadap suaminya.

Kekerasan, dari siapapun, kepada siapapun dan dalam bentuk apapun sangat tidak dibenarkan baik oleh prinsip kemanusiaan apalagi menurut dasar agama. Saya sendiri sangat menentang segala bentuk kekerasan domestik yang dilakukan oleh para suami kepada isterinya. Begitu juga hal yang sama akan saya lakukan apabila kondisi tersebut diposisikan terbalik, dimana para isteri yang melakukan kekerasan kepada suaminya.

Tidak pada tempatnya seorang isteri memukul suaminya. Karena Allah mengajarkan kepada manusia cara berumah tangga yang baik melalui syariat shalat. Ibaratnya shalat adalah sebuah rumah tangga, dimana imam adalah sang suami dan ma’mum adalah sang isteri dan anak-anaknya. Maka selama imam melaksanakan shalat sesuai ajaran Nabi Muhammad serta bacaannya benar, maka wajib bagi ma’mum untuk tunduk dan mengikuti segala gerakan imam.

Syariat shalat sangat demokratis. Terbukti saat imam melakukan kesalahan, ma’mum diperbolehkan memperingatkan imam dengan membaca subhanallah (untuk anak laki-laki) atau bertepuk tangan satu kali (untuk isteri dan anak perempuan). Apabila imam batal, atas kesadarannya sendiri, imam diwajibkan untuk mengundurkan diri dari posisi sebagai imam dan digantikan oleh salah satu ma’mumnya sesuai syariat.

Metode ini menuntut pengertian yang tinggi baik dari imam (suami) maupun ma’mum (isteri), karena apabila salah satu pihak melakukan kesalahan maka mereka harus bersedia untuk diperingatkan. Lebih jauh lagi, sang imam (suami) juga dituntut untuk tidak egois mempertahankan posisinya sebagai pemimpin apabila dia memang melakukan kesalahan vital yang menyebabkan posisinya sebagai pemimpin menjadi batal.

Saya ngeri sendiri membayangkan seandainya anak-anak perempuan kita yang saat ini menonton SSI setelah besar nanti menganggap bahwa memukul suami adalah sah dan benar. Bahwa kesetaraan gender diwujudkan dalam pengambilalihan posisi imam oleh isteri meskipun sang suami yang sedang menjadi imam tidak melakukan kesalahan apapun dan juga sedang tidak batal. Betapa banyak pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga anak-anak kita nantinya akibat pemahaman salah tersebut yang berasal dari ketidaksadaran mereka di masa kecil. Pemahaman bahwa suami bukanlah lagi imam tetapi berubah menjadi isteri sebagai imam, sehingga suami wajib tunduk dan patuh kepada isterinya.

Satu hal yang bisa saya lakukan saat ini hanyalah berharap. Berharap semoga semua itu tidak terjadi. Semoga hiburan tetaplah dianggap sebagai hiburan belaka. Semoga SSI tidak mengendap dalam alam ketidaksadaran anak-anak kita sebagai sebuah sebuah prinsip hidup. Semoga Allah terus berkehendak menjaga akidah kita dan anak-anak kita nantinya sehingga tetap lurus berada pada jalan-Nya.

Ihdinashshirâth al mustaqîm, shirâth alladzîna an’amta ‘alaihim ghairil maghdlûbi ‘alaihim waladhdhâllîn.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Al Fatihah ayat 7 – 8).

Banyuwangi, 10 Desember 2008

Aziz Fajar Ariwibowo

see my blog : http://aziz-fajar.blogs.friendster.com/azizfajar/

0

Hadapilah Kegagalan

Pribadi Hebat - Sup Ayam Hebat


oleh: Seta A. Wicaksana

Semangat Pagi SOBAT-SOBAT Profesional…

Tanpa terasa, kita akan segera melewati tahun 2008. Pastinya banyak hal suka dan duka menghampiri tahun ini. Ucap syukur merupakan satu hal yang kita lakukan saat ini. Hari berganti hari, Hadiah demi hadiah menjadi sejarah dan bagaimana kita menyikapi segala yang kita lewati dengan penuh bijak untuk menanamkan benih baru dalam harapan kita di masa yang akan datang.

Pada saat ini, saya ingin berbagi mengenai sikap kita dalam menghadapi berbagai kegagalan, baik dalam belajar, bekerja, dan kehidupan. Saya pernah membaca sebuah buku mengenai “keberanian untuk gagal” – “Dare to Fail”. Buku ini tidak tebal, buku ini terlihat biasa saja, namun saya memilikinya dengan penuh kebanggaan. Buku itu dihadiahkan oleh civitas akademika dimana saya dulunya berada. Bangga dan haru.

Bangga disini bukan berarti saya arogan, atau tinggi hati. Bangga adalah ungkapan kebahagiaan yang tak terkira bahwa buku tersebut merupakan pintu gerbang saya untuk masuk dalam dunia professional sebagai trainer dan wirausaha. Bangga punya rekan-rekan yang memberikan buku tersebut. Saya teringat, seorang teman mengajak saya untuk mengisi kekosongan acara alumni. Pada saat itu saya berkumpul dengan sobat-sobat civitas akademika, untuk berbagi cerita tentang “how to keep the dream alive”. Pada saat itu, saya pun belum “bermimpi” apa-apa, namun saya suka tema tersebut. Singkat cerita, setelah saya berada di KA Jabotabek untuk pulang, saya hanya merenung apa yang telah saya ucapkan tadi. Saya merasa apa yang telah diucapkan menjadi “beban” tersendiri. “apa iya?”..”apa seperti itu??”…”jangan-jangan teori saja…” dan banyak lagi.

Saya beranikan buka bungkusan yang terbungkus rapi. Sebuah kartu Ucapan terima kasih dan buku. Buku ‘dare to fail’. Saya buka satu persatu, halaman demi halaman, di dalamnya banyak tokoh-tokoh hebat yang saya kagumi karena dedikasinya dan komitmennya yang tinggi untuk membuat dunia lebih baik. Salah satunya tokoh pendiri General Electric, Thomas Alfa Edison. Dan dari situlah saya mulai “Bermimpi”.

Mudah untuk bermimpi, namun perlu energy ekstra untuk membuat mimpi tersebut menjadi nyata ! Dengan kata lain tidak ada keinginan yang diwujudkan dengan mimpi saja, namun dibutuhkan “Nyali” untuk bertindak. Selama proses diawali dengan penuh keraguan sambil bertanya dalam hati, “ akankan hari ini akan menjadi lebih baik dari hari kemarin ?” kegagalan demi kegagalan rasanya yang pernah dialami rasanya terus menghantui saya. Membangun sikap mental dengan berpikir positif itu yang harus terus diupayakan, jangan pernah menyerah!! Kata hati saya.

Pada saat –saat tersebutlah saya belajar banyak untuk “menghargai” apa yang telah dilakukan selama ini. Jangan pernah lupa bahwa bahwa kita tidak mungkin bisa menempuh perjalanan sukses tanpa kegagalan. Saya juga pernah membaca bahwa Soichiro Honda, pendiri Honda Motors pernah berkata ; Banyak orang memimpikan sukeses, bagi saya sukses hanya bisa dicapai lewat kegagalan yang berulang- ulang sambil terus melakukan introspeksi, sesungguhnya kesuksesan itu hanya mewakili 10% dari dari karya yang anda hasilkan dari 90% kegagagaln yang anda alami. “jadi Hargailah Nilai Kegagalan.setiap kali kita gagal, ketahuilah bahwa kita telah menempuh 1 mil lagi langkah maju. Hal yang sangat berat adalah menghargai apa yang telah dilakukan walaupun itu belum membuahkan hasil. Rasa ingin menyalahkan diri dan bahkan orang lain yang ada disekitar, itu yang lebih dirasakan. Memang tidak mudah namun akan terbiasa untuk menghargai apa yang telah dilakukan.

Saat kita mengalami kegagalan, adalah mudah bagi kita untuk terjebak menyalahkan semua hal kecuali diri kita sendiri sebagai penyebab kegagalan, kita sering menyalahkan org lain dan mengkambinghitamkan, menyalahkan situasi dan keadaan yang tidak bersahabat, daripada kita terus mencari pembenaran diri lebih baik mari kita mengevaluasi kegagalan itu dan bertanya mengapa, bukan siapa ? Bob Biehl pernah memberikan daftar pertanyaan positif tentang kegagalan yang kita alami,. Pelajaran apa yang telah saya petik ? bagaimana saya bisa merubah kegagalan ini menjadi suatu kesuksesan ? apakah saya gagal karena orang lain, karena situasi atau karena diri saya sendiri ? apakah saya benar-benar gagal ? atau apakah saya hanya tidak berhasil mencapai standart tinggi yang tidak realistis ? Tanyakan Kenapa??

Perjalanan belum sampai disitu saja, berusaha untuk “Mencari Pintu”. Jika dalam perjalanan hidup serasa membentur tembok saat melangkah maju, bukan berarti telah habis dan kalah, saat terus saja menabrak tembok itu artinya perlu mengubah arah dan mencari pintu yang terbuka. Ingat “masih banyak jalan menuju Roma”. Percayalah bahwa akan ada selalu pintu yang terbuka, masalahnya hanya saja kita belum menemukannya. Sang Pencipta tidak pernah menciptakan kamus “buntu”. Selama ada keinginan baik dan berusaha, tidak ada kata yang “tidak mungkin”. Biarkan proses yang bekerja hasil kita serahkan kepadaNYA. Dengan begitu saya lebih bersyukur dengan apa yang telah didapatkan.

Sulit untuk tertawa…, namun itu HARUS !! Akan mudah untuk tertawa kalau segalanya berjalan lancar, tapi bagaimana kalau semuanya terlihat kacau dan terpuruk dalam kegagalan ? meskipun demikian penting untuk memelihara rasa humor dan tetap tersenyum ! mengapa karena sebaiknya hadapilah kegagalan dengan penuh syukur maka itu akan mebuat diri tetap bangkit, sebaliknya jika kehilangan rasa syukur dalam hidup akan terasa lebih berat dalam menghadapi kegagalan,. Bukankan ada kata bijak mengatakan : “Hati Yang Gembira Adalah Obat ?” tentu saja bukan hanya obat untuk orang yang sakit tapi juga untuk orang yang gagal.!!

Apakah yang membedakan antara pemenang dan pecundang ? pecundang adalah mereka yang gagal dan tidak berani untuk bangkit lagi, sedangkan pemenang adalah mereka yang gagal namun tidak menyerah kalah. Pemenang bukanlah orang yang tidak pernah gagal hanya saja mereka tidak pernah menyerah. Bisa saja kita pernah melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan tahun lalu. Namun saat ini jika kita gagal lagi mari bangkit kembali untuk menghadapi hari-hari yang akan datang dengan tetap menebarkan pikiran, sikap dan perbuatan BAIK…Semoga bermanfaat.

Sukses dan tetap semangat dalam menebarkan Ke’Baik’an….

Salam SOBAT !!

Seta A. Wicaksana, M.Psi.
(i/o Psychologist)

Humanika Consulting
Jalan Kalibata Tengah No. 4A
Jakarta 12740
Phone : 021-68211673 / 021-70787382
Fax : 021-7975845
wicaksana@humanikaconsulting.com

0

Keajaiban Dalam "MEMBERI"

Pribadi Hebat - Sup Ayam Hebat


oleh: Seta A. Wicaksana


Semangat pagi Sobat-Sobat Professional,

Allahu Akbar…Allahu Akbar Wa lilla Ilham…gema takbir berkumandang. Pagi hari nan cerah namun tidak terik terasa dan balutan embun pagi yang membasahi rerumputan. Seruan takbir menghantarkan hari Iedul Adha. Semarak dan hikmat. Seperti pemandangan yang sangat lazim, sebagian besar diwarnai banyaknya kambing dan sapi di pinggiran jalan. Yah..iedul Adha merupakan lebaran haji, bagi yang memiliki rezeki dapat melakukan kurban berupa kambing dan atau sapi.

Kurban atau berkurban, hal ini dikisahkan dari nabi Ibrahim A.S. dan putranya Ismail A.S.. Dimana Nabi Ibrahim A.S. mendapatkan perintah untuk mengkurbankan anaknya sendiri. Betapa berat dan sedih, dimana anak kesayangannya yang saat ini ada melalui penantian dan pengorbanan yang panjang. Perintah Allah adalah Perintah. Ketika perintah tersebut dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim A.S., tiba-tiba Ismail yang hendak dikurban digantikan dengan kambing. Luar Biasa !! sejak itu, dimulailah berkurban pada saat hari raya Iedul Adha.

Jika kita diposisi Nabi Ibrahim A.S pada saat itu, bisa dibayangkan betapa sulitnya melepas harta yang kita paling sayang – Anak- untuk dikorbankan di jalan Allah. Apapun itu, jika kita telah milki akan sulit kita lepaskan apalagi untuk kita berikan kepada orang lain. Dengan kata lain tidak mudah untuk kita “Berbagi”.

Kenapa kita menjadi tidak mudah berbagi?? Konsepsi “Take and Give” merupakan konsepsi yang membelenggu pikiran kita. Karena apa yang kita telah kita dapatkan dari hasil kerja keras kita selama ini dengan mudahnya kita bagikan kepada orang lain? Karena konsepsi “TAKE” nya dan kemudian GIVE nya menjadi nomor dua, setelah adanya pertimbangan-pertimbangan lain.

Ada sebuah cerita menarik yang saya dapatkan dari sebuah buku “Hadiah Terindah”, yang merupakan seri pertama dari Chicken Soup for the Soul Graphic Novel, kumpulan kisah nyata yang dituangkan dalam bentuk komik.

Alkisah, ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark, yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya. Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan 8 orang anaknya. Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus. Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya, Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu. Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak 8 anak tadi nampak pucat pasi. Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yang total harganya 60 dollar.

Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus mengatakan kepada anak2 mereka bahwa malam itu mereka batal nonton sirkus karena uangnya kurang. Sementara anak2 nya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke sirkus. Tiba2 Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata: “Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku Bapak”, sambil menjulurkan lembaran 20 dollar dan mengedipkan sebelah mata nya. Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yg dilakukan Ayah Clark. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan terimakasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi sangat berarti bagi keluarganya. Tiket seharga 60 dollar pun terbayar. Dan dengan riang gembira, keluarga besar itupun pun segera masuk ke dalam sirkus.

Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang. Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan kepada Bapak 8 anak tadi. Malam itu, Clark merasa sangat bahagia. Ia tidak dapat menyaksikan sirkus. Tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.

Cerita di atas mengingatkan saya akan kekuatan memberi. The Power of Giving. Lebih tepatnya lagi “Giving and Receiving”. Karena memberi dan menerima, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dari cerita diatas, ada dua kebahagiaan yang terjadi dalam aktifitas memberi. Yaitu kebahagiaan bagi yang menerima, dan sekaligus kebahagiaan yang diperoleh si pemberi. Bapak 8 anak yang “diselamatkan” oleh Ayahnya Clark, tentu pada saat itu akan merasa sangat bahagia. Tapi Ayah Clark sendiri juga merasakan kebahagiaan yang sangat luar-biasa.

Konsepsi “Giving and Receiving”, di dunia ini berlaku hukum alam dimana seseorang menanam perbuatan baik akan menghasilkan buah/hasil yang baik juga. Demikian juga sebaliknya. Jika ditanya mengenai waktu, kita bicara saat ini dan masa yang akan datang dengan tidak ada batasan waktu. Kita tidak tahu apa yang kita tanam akan bisa kita tuai pada waktu yang dekat atau bahkan generasi yang kesekian yang akan memperoleh manfaatnya.

Deepak Chopra dalam 7 Spiritual Law of Success mencantumkan “Law of Giving” sebagai hukum kedua untuk sukses. Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima. Coba kita perhatikan. Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum memberi dan menerima. Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida, sementara tanaman, menggunakan karbon-dioksida dalam proses fotosintesa, dan membebaskan oksigen.

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: Apakah yang harus saya berikan? Jawabannya sama dengan pertanyaan: apa yang Anda ingin dapatkan? prinsip memberi dan menerima di atas, apa yang mengalir keluar dari Anda, adalah apa yang akan mengalir kembali kepada Anda. Alam semesta mengikuti hukum ini. Bahkan yang mengalir kembali kepada Anda, selalu lebih besar dari yg mengalir keluar dari Anda, karena semesta jauh lebih besar dari Anda!

Bangunlah kebiasaan dalam memberi, dengan cara terus membangun sikap/mental keberlimpahruahan dalam diri. Caranya adalaha mengembangkan pemikiran positif (mind set) memang butuh niat dan keinginan dan memiliki nyali untuk berbuat. Mental keberlimpahruahan adalah sikap mental dalam memandang dunia yang memiliki banyak sumber daya yang dapat diolah dan disinergikan untuk menghasilkan sesuatu/hal yang memiliki kebermanfaatan buat umat manusia. Sehingga cara pandang yang luas dan penuh harapan membuat kompetisi yang terjadi menuju kepada sebuah sinergi. Individu berlomba-lomba dalam keunikannya untuk menghasilkan yang terbaik buat dirinya, orang lain dan lingkungan.

Yang kedua adalah selalu memberi ‘sesuatu’ untuk orang lain dan lingkungan. Ingat sesuatu itu bukan materi semata namun juga dalam bentuk yang non- materi, seperti senyum, sapaan hangat, Ucapan terima kasih, pujian terhadap jerih payah sesorang, ciuman untuk si kecil, dan banyak lagi yang bisa kita bagikan ke dunia ini melalui orang-orang sekitar kita untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik lagi.

Mensyukuri segala sesuatu yang didapat setiap waktunya, baik suka dan duka, senang dan sedih, karena semua peristiwa jika kita dapat mensyukurinya akan lebih dalam memaknainya dan memudahkan kita untuk dapat mengambil hikmahnya. Perjalanan hidup menjadi lebih tenang, jauh dari rasa takut. Mampu melihat dengan bebas setiap potensi yang ada disekitarnya. Yang pasti kehidupan ini akan menjadi lebih baik.

Terakhir adalah komitmen, dimana kita harus melakukannya disetiap waktu dalam hidup kita. Banyak tantangan yang harus dilalui, semakin besar tantangan yang kita lalui semakin besar juga nilai kebaikan yang bisa didapatkan.

Jadi dengan semangat berkurban, tidak hanya untuk saat ini, Iedul Adha saja namun bisa kita lakukan disetiap waktunya. Berkorban untuk member dan untuk mendatangkan keajaiban-kejaiban yang penuh kebaikan di muka bumi ini.

Ada sebuah kisah humor Sufi. alkisah ada seorang Sufi yang sudah merasa teramat dekat dengan Tuhan nya. Suatu hari ketika sedang berjalan, Sang Sufi berpapasan dengan seorang yang sangat miskin. Tubuhnya kurus kering, tinggal tulang berbalut kulit yang dibungkus dengan kain compang-camping seadanya. Badan nya tergeletak lemas di pinggir jalan, bibirnya mengering, menandakan sudah lama si miskin tidak mendapat makan. Melihat penderitaan si miskin, Sang Sufi pun berteriak protes pada Tuhan nya: “Ya Tuhan, mengapa Engkau tidak lakukan sesuatu untuk orang ini !!“. Sesaat kemudian, terdengar jawaban: “Ya! Makanya Aku ciptakan kamu!“.



Selamat Iedul Adha 1429 H…, dan tetap tebarkan ke’baik’an

Salam SOBAT !!





Seta A. Wicaksana, M.Psi.

(i/o Psychologist)



Humanika Consulting

Jalan Kalibata Tengah No. 4A

Jakarta 12740

Phone : 021-68211673 / 021-70787382

Fax : 021-7975845

wicaksana@humanikaconsulting.com

www.cintamerahputih.blogspot.com

0

Sup Ayam dan Vitamin Hebat

Daftar Menu:

  1. Keajaiban dalam 'MEMBERI' koki: Seta Wicaksana
  2. Suami-Suami Takut Istri koki: Aziz Fajar Ariwibowo
  3. Hadapilah Kegagalan koki: Seta Wicaksana
  4. Lagu Happy Birthday Terindah koki: Hillon I. Goa